Kamis, 27 September 2012

0 KESEIMBANGAN BUANA ALIT DAN BUANA AGUNG


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

KESEIMBANGAN BUANA ALIT DAN BUANA AGUNG

Pascatragedi Bom di Kuta
Kembalikan Keseimbangan "Buana Alit" dan "Buana Agung"
UPACARA sapuh awu maknanya sama dengan prayascita atau parisudha, yakni membersihkan tempat kejadian dari kekotoran atau mala kepancabayan. Terkait dengan Tragedi Kuta -- yang menewaskan ratusan korban jiwa -- upacara itu sudah dilakukan di tempat kejadian. Sementara ritual selanjutnya, adalah upacara pecaruan untuk menjaga keseimbangan buana alit dan buana agung. Sebelum diadakan pecaruan, umat sudah melakukan upacara guru piduka di pura-pura bertujuan untuk memohon pengampunan manakala umat secara tidak sengaja telah membuat kesalahan terkait dengan adanya tragedi, Sabtu Kelabu (12/10) lalu.
Menurut Kakanwil Depag Agama Bali Gusti Made Ngurah, pecaruan yang dilakukan terkait dengan Tragedi Kuta cukup Balik Sumpah yakni caru tingkatan madya. Ritual itu mengandung makna bahwa umat bertekad mengembalikan kesucian tempat itu dan berupaya melupakan bahwa di sana seolah-olah sebelumnya tidak pernah terjadi sesuatu yang memilukan. Pelaksanaan caru itu bisa dilakukan di perempatan Kuta atau catuspata. Umatlah yang melakukan, sementara pemerintah mendukungnya.
Menurut Ngurah, sisa-sisa reruntuhan akibat ledakan bom secara fisik memang perlu dibersihkan, tetapi secara niskala juga mesti dilakukan lewat ritual tadi. "Dengan demikian, diharapkan keseimbangan buana agung dan buana alit kembali seperti sediakala," ujarnya.
Gusti Made Ngurah kurang setuju dengan ide perlunya ada ngaben masal di tempat kejadian. Yang namanya ngaben, merupakan tradisi Hindu Bali. Ngaben dilaksanakan oleh masing-masing keluarganya, dan dilakukan di setra atau tempat yang memang ditetapkan untuk itu. Tetapi, mengingat yang tewas dalam ledakan itu berbagai agama, apakah ide adanya ngaben masal itu tepat. Lagi pula tempat itu bukanlah setra. Jadi, kurang tepat ada ngaben masal di tempat tersebut.
Jika umat ingin diberkati rasa ketenangan dan kedamaian, di masing-masing sanggah atau merajan bisa nyejeran daksina --untuk memohon kepada para leluhur ikut memberikan ketenangan kepada pertisentana-nya. Alam para leluhur yang paling dekat dengan alam manusia di muka bumi. Karena itu, umat Hindu Bali tidak ada salahnya minta bimbingan para leluhur. Tetapi, doa kepada Tuhan tetap dipanjatkan, agar umat diberikan kerahayuan.
Sementara itu pemangku catur loka pala Desa Adat Sesetan I Ketut Gede Yudistira mengatakan, prayascita bumi mengandung makna membersihkan tempat dari gangguan bhuta kala. Sementara upacara guru piduka, mohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar diberi pengampunan akibat munculnya musibah yang dilakukan umat manusia. "Guru piduka bisa disebut semacam ritual permohonan maaf kepada beliau agar tidak melanjutkan kemarahan-Nya," katanya. Dalam Tragedi Kuta, Gede Yudistira memandang upacara yang cocok dilakukan adalah caru labuh gentuh, karena terjadi kedurmangalan atau keadaan yang tidak baik. Banyak korban jiwa dalam Tragedi Sabtu Kelabu itu. Untuk menetralisasi tempat kejadian diperlukan ritual berupa pecaruan labuh gentuh. Sementara bekas reruntuhan bangunan itu memang tepat dibuang ke laut atau segara. Kenapa? Bekas kejadian itu dibuang ke laut, karena di sana berstana Ida Batara Baruna. Dimohonkan kepada beliau agar sisa reruntuhan itu dinetralisasi.
Sementara bagi korban yang beragama Hindu yang tidak ditemukan jasadnya -- karena hangus terbakar atau menjadi pecahan-pecahan kecil -- bisa mengambil sedikit tanah atau abu, kemudian dibuatkan adegan lanjut diupacarai -- ngulapin -- dan namanya dipanggil di sana. Adegan itu bisa dikubur seperti halnya mengubur mayat. Tetapi, karena mereka mati tergolong salahpati, katanya, upacara pengabenan baru bisa dilakukan tiga tahun kemudian. Hal itu, kata Bendesa Adat Sesetan, termuat dalam Lontar Yatmatatwa. Jika lebih dari tiga tahun belum diaben, umat ada yang meyakini arwahnya menjadi bhuta cuil

0 komentar:

Poskan Komentar